Liburan Lebaran

Liburan lebaran kemarin aku menghabiskannya di rumah saja bersama kakak dan ayah. Tapi ada yang kurang, ibuku liburan kemarin memilih pulang kampung ke rumah nenek.

Romadhon kami isi dengan aktifitas ibadah. Selain itu, kami pun mulai mengecat rumah karena warnanya sudah agak luntur. Kemudian pagi harinya biasanya aku dan kakak membagi tugas untuk memasak. Yaa.. ternyata ada hikmahnya juga ibu tak di rumah. Sedikit-sedikit aku jadi belajar masak. Maklumlah, aku jarang sekali memasak di rumah. Aku pernah dengar, katanya memasak adalah salah satu obat stres karena bisa membuat otak lebih santai dan dapat mengalihkan pikiran. Tapi kenapa,ya, kadang kalau kita yang masak, belum makan saja kita sudah merasa kenyang, aneh, hehe..

Tidak terasa Romadhon sebentar lagi berakhir. Rasanya berat sekali meninggalkannya. Belum tentu kita dapat bertemu dengannya lagi dikesempatan berikutnya. Ya, karena kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan manusia. Tidak selayaknya barang sedetik pun kita melupakannya. Hal ini sangat aku rasakan ketika pada pertengahan liburan aku harus menerima berita duka cita meninggal dunianya temanku. Semoga Allah menerima segala amal ibadahnya. Aku jadi teringat perkataan temanku yang lain, “Kita ini sudah punya tiket kematian masing-masing, tinggal gilirannya saja yang kita tidak tahu “. Kehidupan dunia yang yang sedang kita jalani ini ternyata hanyalah bagai air yang menetes ditelunjuk setelah dicelupkan ke lautan. Sedangkan kehidupan akhirat adalah air lautannya. Sudah saatnya kita persiapkan bekal kita menuju kehidupan abadi tersebut. Maka tentu saja kita semua, kaum muslimin, pastilah merasa berat meninggalkan Romadhon, karena banyak sekali bonus pahala dan ampunan di bulan ini untuk bekal di kehidupan akhirat. Namun sekarang yang kita bisa adalah berdoa agar kita bertemu dengan Romadhon berikutnya, dan lebih giat lagi di bulan Syawal juga pada bulan-bulan selanjutnya.

H-1 Idul Fitri. Pagi-pagi buta aku dan kakak langsung cabut ke pasar lokal. Bisa dibayangkan betapa padetnya pasar saat itu. Dagangan para pedagang sampai mengisolir jalanan. Supir angkot pun mengalah membagi jalanannya sama sekali. Hari itu sangat penuh sesak dengan manusia. Semua ibu-ibu sibuk mencari ini-itu untuk keperluan lebaran. Wah aku senang melihat semangat mereka. Begitu pun dengan kami, kami tak kalah semangat dengan mereka. Lebaran kali ini benar-benar tak biasa bagi kami karena sekarang kami harus menyiapkan segala halnya sendiri. Biasanya ibu-lah yang mengatur ini itu dan kami tinggal membantu. Tapi apa boleh buat. Kemudian kami pun langsung ke tempat pedagang bahan masakan yang kami ingin beli. Pedagang kelapa parut adalah yang pertama kali kami datangi,(konon kelapa parut rasanya lebih enak daripada kelapa instan) sesak dikerumuni pembeli ibu-ibu. Semua berebut ingin didahulukan. Aku dan kakak jadi geli. Roman-romannya tak ada istilah antri, nih. Kami biarkan ibu-ibu habis mendapatkan yang mereka inginkan. Asal kelapanya tak ikut-ikut habis, pikirku.

Tak terasa matahari mulai meninggi. Belanjaan kami pun sudah terpenuhi. Keadaan makin siang begini, makin penuh sesak dengan manusia. “hfht.. Ya Robbana.. bagaikan berdiri di pelataran langit dan bumi, aku hanyalah hambaMu yang kecil dan lemah”. Itu barusan kata-kata kakakku. Ada-ada saja dia, siang bolong begini berpuitis ria. Tapi benar juga apa yang dikatakannya itu. Diantara banyaknya manusia begini yang kesemua urusannya dan rejekinya di atur oleh Allah, apalagi yang bisa kita rasakan kecuali ternyata kita begitu kecil kita dihadapanNya. Tanpa saling menginstruksi kami berdua istirahat di depan sebuah toko yang juga ramai sekali dengan pembeli. Kaki kami tak bisa kompromi, benar-benar pegal-pegal. Namun kami¬† harus segera pulang untuk mengolah bahan yang kami beli. Kemudian kami beranjak melewati lautan manusia.

Idul Fitri pun tiba. Pagi-pagi sekali ayah sudah berangkat ke masjid. Setelah membenahi rumah seadanya aku dan kakak pun siap-siap untuk berangkat ke masjid. Sesampainya disana aku kembali melihat lautan manusia. Luar biasa. Kami mendapatkan tempat di badan jalan raya saking melimpah ruahnya. Shalat ‘Id dimulai. Kekhusyuan menyeruak disekitar masjid Jami’ Nur Sa’adah. Sang imam begitu fasihnya membaca surat al-Fajr. Sampai ayat yang menyebutkan nasib kaum ‘Aad, Tsamud dan kaum Fir’aun, bacaan sang imam shalat merendah, bacaannya bergetar haru sambil melanjutkan ke ayat selanjutnya. Jama’ah semakin khusyu’. Kaum yang disebutkan pada surat tersebut adalah kaum-kaum yang telah diberi kemakmuran. Pada ayat tersebut diberikan pula gambaran betapa majunya teknologi mereka. Namun Allah mengazab mereka karena mereka sombong terhadap ayat Allah dan berbuat kerusakan di negeri mereka sendiri . Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi pada negara kita. ^^

Usai sholat ‘Id aku langsung pulang ke rumah. Suasana penuh haru yang sangat kusukai di setiap tahun adalah saat ini.¬† Aku langsung sungkem kepada ayah dan bermaafan dengan kakak. Setelah itu sungkem dengan ibu via telepon. Lalu bermaaf-maafan dengan tetangga sekitar.

Alhamdulillah. Itu tadi sedikit kisahku pada liburan lebaran. Kebenaran datangnya dari Allah, kesalahan dari saya sendiri. Semoga romadhon kemarin membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Posted in Uncategorized | Leave a comment